Kamis, 28 November 2013

TULISAN 3


Pendahuluan
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga saya dapat menyusun tulisan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam dalam tulisan ini kami membahas mengenai Bisnis bakpia. 
Akhir kata semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. 


Bisnis bakpia
erkunjung ke Yogyakarta rasanya tak lengkap tanpa mencicipi kuliner khas Kota Gudeg ini. Salah satu yang menjadi ikon oleh-oleh khas Jogja adalah bakpia. Jika mendengar nama panganan yang satu ini, pasti Anda akan langsung mengaitkannya dengan kampung Pathuk. Tidak berlebihan, karena bakpia memang merupakan hasil industri rumahan yang dirintis oleh warga Pathuk, Yo
B gyakarta. Sehingga tak heran lagi bila panganan bakpia Jogja memang lebih dikenal dengan sebutan bakpia Pathuk.
Seiring dengan kemajuan sektor pariwisata, permintaan terhadap bakpia pun terus meningkat. Hal ini tidak disia-siakan oleh dua warga Minomartani yang kemudian merintis industri rumahan untuk memproduksi bakpia. Ketekunan dan keuletan dua ibu rumah tangga yang sebenarnya berasal dari Pathuk ini pun membuat bakpia dari Minomartani dikenal oleh warga. Terlebih pada akhir tahun 2011 pemerintah Kabupaten Sleman menetapkan Minomartani yang berada di Kecamatan Ngaglik  sebagai sentra kuliner bakpia.
Keunggulan Bakpia Mino
Bakpia Mino dibuat secara perorangan oleh warga komplek perumahan Minomartani yang pusatnya berada di jalan Tenggiri dan Mujahir. Keunggulan dari bakpia Mino ini adalah bakpia yang selalu baru (fresh from the oven) dan tanpa bahan pengawet. Keberhasilan industri bakpia Minomartani ini tidak bisa dilepaskan dari perintisnya. Dua ibu rumah tangga, Sumidah dan Suharti yang memiliki keahlian membuat bakpia yang diperoeh secara turun-temurun dari kampung asalnya yaitu Pathuk.
Ibu Sumidah dan Suharti memulai produksi pembuatan bakpia pada tahun 1997. Pada awalnya, bakpia yang diproduksi hanya dua rasa, yaitu kacang hijau dan keju. Namun saat ini, rasa bakpia yang dihasilkan lebih bervariasi. Bahkan bakpia juga diisi dengan kumbu hitam yang merupakan campuran antara kacang hijau, ketan hitam dan kacang tholo.  Jika awalnya bakpia Mino dipasarkan dengan dititipkan ke warung-warung dan dari mulut ke mulut, sejak tahun 2000 bakpia Mino lebih dikenal oleh masyarakat.
Dalam sehari, industri rumah tangga ini biasanya memroduksi sekitar 5-10kg bakpia.  Produksi pun bisa bertambah saat hari libur maupun hari lebaran tiba. Bakpia yang paling digemari konsumen adalah rasa kacang hijau dan keju. Dukungan dari pemerintah daerah menjadikan Minomartani sebagai destinasi oleh-oleh bagi para wisatawan. Selain itu, sentra bakpia Mino juga menjadi rujukan bagi pelajar atau mahasiswa sebagai tempat menimba ilmu tentang pembuatan bakpia dan wirausaha bidang kuliner.
Penutup
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.

http://bisnisukm.com/sentra-bakpia-minomartani.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar